Halaman

Iklan

Selasa, 09 Juli 2013

1 Oktober 2000

Tatapan risau mata seorang laki-laki tua saat menjelang senja. Bahkan ketika secangkir kopi yang biasa menjadi teman setianya tak mampu lagi menghangatkan hatinya yang kian gundah. Memandangi puing-puing rumahnya yang mulai habis termakan usia.
Setelah shalat ashar sore tadi matanya masih sembab bekas tangisan yang pecah kemarin pagi. Disaat orang yang paling ia kasihi telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan ia dengan luka dalam akibat kehilangan yang teramat sangat.
Luka dalam yang dirasakan seluruh anggota keluarga, namun mungkin ia adalah orang yang paling kehilangan. Kehilangan istri yang amat ia sayangi, orang yang selama ini menjadi penyemangat hidup dalam menjalani takdir yang kadang tak ramah. Takdir yang menuntunnya hidup dalam keadaan serba kekurangan. Takdir yang terkadang mengubur mimpi-mimpi masa mudanya.

"Kakek, walaupun saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami kepedihan yang kau alami. Namun kupun merasakan kehilangan yang teramat sangat, ketika ia pergi meninggalkan kita. 1 Oktober 2000 itu adalah saat pertama kali ku rasakan air mata tak dapat lagi ku bendung, hingga benar-benar menyesakan dada. Kehilangan seorang yang amat berharga, seorang yang amat ku sayangi. Bahkan kepergiannya yang akan mengubah seluruh tatanan kehidupanku kelak. Kau mungkin terlalu lelah dalam menjalani hidup, namun ku tahu perjalanan demi perjalanan yang kau lakukan membuatmu lebih kuat dari orang kebanyakan. Kakek, kau adalah lelaki kuat, bahkan terkuat yang pernah ku temui. Saat kau mendidik dengan tulus, walaupun dalam keadaan kekurangan, namun kau tak pernah menyerah memberikan semangat kepada anak-anakmu untuk terus berjuang. Karena dalam hidupmu tak pernah ada kata menyerah hingga hari ini."

Alunan takdir yang menuntun nenekku pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Bahkan hingga hari ini kenangannya masih tersimpan. Seorang ibu yang penuh kasih sayang dalam mendidik anak-anaknya, seorang ibu yang selalu ingin memberi walaupun dalam keadaan kekurangan. Seorang ibu yang selalu melindungi walau ia rapuh. Sosok nenek tempat kami sekeluarga bernaung, senyuman  cukup untuk memberikan kami kehangatan.

"Nenek, ku rindu akan hadirmu, ku rindu akan kasih sayangmu yang memberikan kehangatan kepada seluruh keluarga. Bahkan setelah kepergianmu, perlahan kami semua terpuruk. Meskipun perlahan kami mulai bangkit dari keterpurukan itu, namun relung hati kecil kami amat merindukan sosokmu. Aku rindu."


Untuk nenek dan kakekku yang amat kusayangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar