Kaki-kaki kecil itu terus berlari diatas lapangan berdebu. Hingga adzan maghrib hampir berkumandang. Namun mereka terus berlari dan larut dalam permainan. Menikmati masa kecil yang tak mungkin terulang.
Andri, Jamal, Sam, candra, dan rebi adalah anak-anak kecil di kampung lengkong barang. Kampung yang amat jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Membuat mereka leluasa bergerak di alam lepas yang masih tersisa di kampung itu. Kavling yang batal menjadi perumahan menyediakan mereka lapangan yang luas untuk mereka jadikan tempat bermain.
Kavling lebih dari sekedar tempat bermain bagi mereka. Namun sebuah tempat dimana mereka mengukir kenangan masa kecil. Setiap sore selepas mengaji mereka bergegas pergi kesana. Walau terkadang mentari masih terasa terik menyengat, mereka tetap bersemangat menunggu sinar teriknya reda berganti dengan keramahan senja.
Debu tak lagi mereka rasakan karena larut dalam permainan, merasakan kebahagiaan yang tak dapat tergantikan. Dalam kepolosan mereka, mereka tidak menyadari segala aral yang menunggu mereka di depan. Masa depan yang mungkin saja tak ramah, bahkan pahit. Masa depan
Canda tawa dan keriangan yang terukir dalam alunan senja, menyiratkan kesan yang mendalam bagi mereka. Hingga peluhpun tak lagi mereka rasa. Hingga ketika senja hampir berlalu berganti dinginnya malam, mereka berjalan pulang dengan kaki yang dipenuhi debu. Meski tak jarang mereka pulang disambut dengan nasihat dalam bentuk cacian dari orang tua mereka, namun tak pernah mereka hiraukan. Karena bagi mereka, bermain disana begitu berarti, hingga dapat dipastikan esok akan mereka ulangi lagi.
Biarkan, biarkan mereka mengukir kenangan masa kecil, jangan pikulkan mereka dengan beratnya segala ketidak pastian akan masa depan. Masa dewasa yang akan menghadapkan mereka dengan berbagai kemunafikan, orang-orang yang penuh dengan kebohongan, biarkan mereka mengukir kenangan hingga mereka kelak tersadar....
SEMUANYA TAK AKAN TERULANG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar