Halaman

Iklan

Sabtu, 15 September 2018

Kehilangan kalian

Jika kalian bertanya mengapa semua ini kutulis dalam untaian untaian kata

Jika kalian bertanya lagi untuk apa kususun tiap butir aksara

Ketahuilah,

Dibalik tegap badan setiap pria sepertiku,

Akan selalu terdapat luka yang menganga

yang tidak seorang pun dapat melihatnya

luka akan kehilangan orang orang yang dulu pernah ada

Aku amat merindukan kalian

Aku amat merindukan hari itu

hari dimana kita semua tertawa terbahak-bahak

di dalam ruang kelas berdebu

Bersama kalian hatiku terasa tentram

karena kejujuran sikap dan keluguan

namun, semua hanyalah fana

karena akhirnya tiba

hari dimana ku kehilangan arah

hari ketika aku menunjukan sifat asliku,

dan makhluk menyeramkan yang selama ini bersemayam muncul menunjukan egonya

inilah aku yang sesungguhnya

dan aku tidak keberatan jika kalian membenciku

karena semua orang berhak untuk mencinta, apalagi membenci

tapi setidaknya ku punya kenangan itu

kenangan yang sesekali dapat kubuka

aku pernah begitu dekat dengan kalian

"DAHULU"

biarkan kumenyimpan kenangan itu

agar aku dapat mengenangnya

sesekali

hanya disaat masa itu tiba

masa dimana aku merindukan kalian semua.




12.45 | 0 komentar | Read More

Sabtu, 18 Maret 2017

Akan selalu ada pelangi setelah hujan

Ragamu hanya beberapa detik singgah dalam hidupku
Akan tetapi bagaimana kenangan tentangmu?
Dia masih kusimpan rapi dalam kotak kecil
Disudut hati ini dan akan selalu hidup dalam tiap detik waktuku
Aku masih ingat sore itu, mungkin kau sudah melupakannya
Aku ingat saat kau ucapkan "Kita tidak mungkin untuk bersama"
Aku hancur, namun ku selalu berusaha bangkit
meskipun pada akhirnya aku terjerembab lagi 
Kau selalu peduli, tanpa pernah ingin memiliki
Apakah kau sahabatku? bukan
Apakah kau saudariku? bukan
Apakah kau pernah menganggapku sebagai kekasih? aku meragukannya
Yang kutahu kau adalah kenangan,
Kenangan disaat aku terpuruk dan kesepian
Setidaknya kamu mau mendengar keluh kesahku
Meskipun kutahu kau bosan
Disaat itu langit terlalu hitam untukku
Bahkan disaat itu aku tidak bisa menemukan jalanku 
Kau masih belum berpikir untuk benar-benar pergi
walau berulang kali kusayat hatimu dengan ucapku
Yang kau tahu hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja
Tanpa peduli betapa deras hujan mengguyurmu
Disaat itu aku sadar, aku tidak pernah bisa berbuat apapun untuk melindungimu
Aku tak pernah bisa menaungimu disaat kau kedinginan dan kesepian
Karena aku hanyalah bayangan kosong dalam hidupmu,
Senyumku terlalu samar untuk sekedar kau kenang
Aku hanyalah orang yang membayangkan hadirmu disaat malam tiba
Kemudian tertawa bangga saat kau menanyakan kabarku
Hingga aku kembali terlelap pulas berselimut kesepian
Tanpa tahu dan merasakan betapa berat hidup yang kau jalani.
Di malam itu hujan begitu deras, hingga fajar akhirnya tiba
Dan ketika mentari mulai menghangatkan bumi
Kulihat secercah pelangi dilayar ponselku
Kubaca kalimat itu, kalimat yang selalu terngiang dalam hidupku
"Selamat Pagi. selamat beraktivitas, jangan pernah menyerah"
Setelah itu kau pun pergi, menghilang, dan lupakan aku
Tanpa pernah tahu aku menitikan air mata untukmu




09.34 | 0 komentar | Read More

Selasa, 31 Januari 2017

Hadirku

Bagaimana mungkin aku bisa berlari pergi
Jika rindumu masih terus saja merantaiku
Bagaimana mungkin aku bisa melupa
Jika ikhlasmu tak jua datang
Relakanku kau tak sanggup
Sedangkan hadirku hanya deraikan air mata
Air mata untukmu
Air mata yang buatku tergenang dalam rasa sakit
Air mata yang buatku jera untuk mengisi hari-harimu
Air mata yang membuatku memilih untuk pergi
Cinta adalah menjaga
bukan menyakiti
Cinta adalah kehadiran
bukan hanya nampak untuk sementara
kemudian pergi tinggalkan luka.
Aku akan kehilangan hari dimana aku melihat senyummu
Tapi setidaknya itu lebih baik bagiku
Daripada harus ku ukir nestapa dan derita karena hadirku

06.32 | 0 komentar | Read More

Selasa, 29 November 2016

Senyap

Senyap

Terima kasih kau telah temaniku malam itu

saat kupunguti serpihan-serpihan sayap patahku

Kau datang dari sela sempit tembok kamarku

menyapaku dan buatku melukis senyuman

Senyap

setidaknya kau tidak seperti dia

yang tinggalkanku dalam pekat

bermandi jelaga dipeluk duka

terima kasih telah ajarkanku untuk bertahan.
02.01 | 0 komentar | Read More

Selasa, 09 Juli 2013

Tak akan Terulang

Kaki-kaki kecil itu terus berlari diatas lapangan berdebu. Hingga adzan maghrib hampir berkumandang. Namun mereka terus berlari dan larut dalam permainan. Menikmati masa kecil yang tak mungkin terulang.

Andri, Jamal, Sam, candra, dan rebi adalah anak-anak kecil di kampung lengkong barang. Kampung yang amat jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Membuat mereka leluasa bergerak di alam lepas yang masih tersisa di kampung itu. Kavling yang batal menjadi perumahan menyediakan mereka lapangan yang luas untuk mereka jadikan tempat bermain.

Kavling lebih dari sekedar tempat bermain bagi mereka. Namun sebuah tempat dimana mereka mengukir kenangan masa kecil. Setiap sore selepas mengaji mereka bergegas pergi kesana. Walau terkadang mentari masih terasa terik menyengat, mereka tetap bersemangat menunggu sinar teriknya reda berganti dengan keramahan senja.

Debu tak lagi mereka rasakan karena larut dalam permainan, merasakan kebahagiaan yang tak dapat tergantikan. Dalam kepolosan mereka, mereka tidak menyadari segala aral yang menunggu mereka di depan. Masa depan yang mungkin saja tak ramah, bahkan pahit. Masa depan

Canda tawa dan keriangan yang terukir dalam alunan senja, menyiratkan kesan yang mendalam bagi mereka. Hingga peluhpun tak lagi mereka rasa. Hingga ketika senja hampir berlalu berganti dinginnya malam, mereka berjalan pulang dengan kaki yang dipenuhi debu. Meski tak jarang mereka pulang disambut dengan nasihat dalam bentuk cacian dari orang tua mereka, namun tak pernah mereka hiraukan. Karena bagi mereka, bermain disana begitu berarti, hingga dapat dipastikan esok akan mereka ulangi lagi.

Biarkan, biarkan mereka mengukir kenangan masa kecil, jangan pikulkan mereka dengan beratnya segala ketidak pastian akan masa depan. Masa dewasa yang akan menghadapkan mereka dengan berbagai kemunafikan, orang-orang yang penuh dengan kebohongan, biarkan mereka mengukir kenangan hingga mereka kelak tersadar....

SEMUANYA TAK AKAN TERULANG.

19.44 | 0 komentar | Read More

Perjalanan seorang Ibu

Kau lemah terbaring

menunggu putaran waktu yang teramat lambat kau rasakan

hingga begitu berat tiap detik yang kau lalui

ibu

dalam senyummu menyimpan seribu pertanyaan

tentang apakah arti kehidupan

meski kadang kau risau merasa tak berarti

namun demi buah hati kau terus bertahan

kaulah mengajarkan kami untuk berbagi

walau ku tahu kau dalam keadaan serba kekurangan

kau yang mengajarkan kami untuk tidak pernah menyakiti siapapun

karena kau tahu rasa disakiti

kau adalah pribadi yang bijak

meski orang-orang memandangmu hanya sebagai orang yang tak waras

tapi ku hormati dirimu begitu, amat ku hormati

pernah ketika kau pergi menghilang entah kemana

kurasakan hidupku serasa tak berarti

kemanapun kucari dirimu

hingga ku temukan kau disisi jalan

di dalam kegelepan dan kesunyian

entah berapa jarak yang telah kau tempuh seorang diri

mungkin dalam ketidak warasanmu kau masih mencari arti

hingga malam tak lagi bertepi



19.11 | 0 komentar | Read More

1 Oktober 2000

Tatapan risau mata seorang laki-laki tua saat menjelang senja. Bahkan ketika secangkir kopi yang biasa menjadi teman setianya tak mampu lagi menghangatkan hatinya yang kian gundah. Memandangi puing-puing rumahnya yang mulai habis termakan usia.
Setelah shalat ashar sore tadi matanya masih sembab bekas tangisan yang pecah kemarin pagi. Disaat orang yang paling ia kasihi telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan ia dengan luka dalam akibat kehilangan yang teramat sangat.
Luka dalam yang dirasakan seluruh anggota keluarga, namun mungkin ia adalah orang yang paling kehilangan. Kehilangan istri yang amat ia sayangi, orang yang selama ini menjadi penyemangat hidup dalam menjalani takdir yang kadang tak ramah. Takdir yang menuntunnya hidup dalam keadaan serba kekurangan. Takdir yang terkadang mengubur mimpi-mimpi masa mudanya.

"Kakek, walaupun saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami kepedihan yang kau alami. Namun kupun merasakan kehilangan yang teramat sangat, ketika ia pergi meninggalkan kita. 1 Oktober 2000 itu adalah saat pertama kali ku rasakan air mata tak dapat lagi ku bendung, hingga benar-benar menyesakan dada. Kehilangan seorang yang amat berharga, seorang yang amat ku sayangi. Bahkan kepergiannya yang akan mengubah seluruh tatanan kehidupanku kelak. Kau mungkin terlalu lelah dalam menjalani hidup, namun ku tahu perjalanan demi perjalanan yang kau lakukan membuatmu lebih kuat dari orang kebanyakan. Kakek, kau adalah lelaki kuat, bahkan terkuat yang pernah ku temui. Saat kau mendidik dengan tulus, walaupun dalam keadaan kekurangan, namun kau tak pernah menyerah memberikan semangat kepada anak-anakmu untuk terus berjuang. Karena dalam hidupmu tak pernah ada kata menyerah hingga hari ini."

Alunan takdir yang menuntun nenekku pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Bahkan hingga hari ini kenangannya masih tersimpan. Seorang ibu yang penuh kasih sayang dalam mendidik anak-anaknya, seorang ibu yang selalu ingin memberi walaupun dalam keadaan kekurangan. Seorang ibu yang selalu melindungi walau ia rapuh. Sosok nenek tempat kami sekeluarga bernaung, senyuman  cukup untuk memberikan kami kehangatan.

"Nenek, ku rindu akan hadirmu, ku rindu akan kasih sayangmu yang memberikan kehangatan kepada seluruh keluarga. Bahkan setelah kepergianmu, perlahan kami semua terpuruk. Meskipun perlahan kami mulai bangkit dari keterpurukan itu, namun relung hati kecil kami amat merindukan sosokmu. Aku rindu."


Untuk nenek dan kakekku yang amat kusayangi.
14.47 | 0 komentar | Read More